Home » Nasional » Tak Mampu Tebus Ijazah, ABG Miskin Diperkosa Kepsek dan 10 Pria Lain

Tak Mampu Tebus Ijazah, ABG Miskin Diperkosa Kepsek dan 10 Pria Lain

MIRIS! Seorang ABG berusia 16 tahun diperkosa secara bergiliran oleh 11 pria, dalam waktu berbeda selama lebih dari delapan bulan. Sadisnya, salah satu pemerkosa si ABG merupakan oknum kepala sekolah. Si ABG yang berinisial IS itu, pertama diperkosa oleh oknum kepsek itu saat dirinya hendak mengambil ijazah SD-nya. Karena merupakan anak petani miskin, si ABG tidak mampu membayar biaya penebusan ijazah. Dan saat itulah si oknum kepsek memaksa IS untuk melampiaskan nafsu bejatnya dengan imbalan ijazah SD.

Setelah itu, hari-hari IS yang juga mengalami keterbelakangan mental menjadi suram. Selain DO di kelas 1 SMP, IS juga hamil delapan bulan. IS yang merupakan ABD asal Samosir, kini berada di bawah perlindungan Dinas Kesejahteraan dan Sosial Pemprov Sumut di Medan. Anak di bawah umur yang merupakan korban perkosaan 11 orang di kampungnya, Desa Lumban Suhi-suhi Toruan, Pangururan, Samosir, Sumut itu, kini kondisinya sangat labil.

Pelaku pemerkosaan terhadap IS disebutkan berjumlah 11 orang. Perbuatan itu dilakukan dalam waktu yang berbeda. Perkosaan pertama kali dilakukan J. Laki-laki itu mengancam akan memerkosa adik korban jika tidak menuruti permintaannya. Kemudian 10 pelaku lain juga memperkosa IS. Salah seorang pelaku merupakan oknum kepala SD berinisial BS.

Peristiwa perkosaan ini sudah dilaporkan ke polisi pada 31 Juli 2015 siang dengan bukti laporan bernomor STPL/127/VII/2015/SPKT/SMR. Laporan diterima Bripda Rizky Wahyudi. Seorang pelaku dilaporkan sempat kabur ke Jakarta karena dilaporkan ke polisi. Namun dia meninggal di pelarian karena sakit.

“Kasus yang dilaporkan IS masih diselidiki. Kami sudah menetapkan seorang terlapor sebagai tersangka, yaitu JS alias K (45), seorang perani. Penetapan tersangka itu berdasarkan gelar perkara dan minimal 2 alat bukti yakni visum et repertum, keterangan korban dan saksi kakak korban serta 1 unit kendaraan roda dua dan sandal milik tersangka,” jelasnya.

Namun saat ini tersangka sudah tidak ada lagi di tempat tinggalnya. Polisi masih melakukan pencarian. “Akan segera dilakukan panggilan. Sementara para terlapor lain mulai diperiksa Senin (12/10) hingga Rabu (14/10). Surat panggilan pemeriksaan sudah dikirim sejak seminggu lalu,” tambahnya.

Dalam pengungkapan kasus tersebut, kaya dia, polisi mendapatkan kesulitan, karena si pelapor ada keterbelakangan mental. “Keterangannya juga berubah-ubah. Laporan dibuat dua kali, yang pertama disebut pelaku si anu, kemudian dia ingat lagi, pelakunya si anu,” ucapnya. Selain itu, lanjut Eko, dalam laporan visum tidak ada disebutkan IS dalam keadaan hamil. “Yang ada hasil visum, selaput daranya memang rusak,” ujarnya.

Salah seorang dari 11 yang dilaporkan IS (16) ke polisi merupakan oknum kepala sekolahnya yang berinisial BS. Dia diperkosa saat mengambil ijazah di rumah pelaku. Berdasarkan pengakuan IS, BS memang bukan yang pertama memerkosanya. Namun, dia melakukan perbuatan itu sampai tiga kali.

Menurut IS, peristiwa itu terjadi pada Desember 2014. Kejadiannya berawal ketika dia dipanggil BS yang menawarinya ijazah SD-nya yang belum diambil karena tidak ada uang. Tanpa curiga, IS tak menolak. Dia kemudian dibawa ke rumah BS yang ketika itu memang sedang sepi. Laki-laki itu kemudian membawanya ke rumah kosong di sebelah rumahnya kemudian memperkosanya di sana.

BS disebutkan tiga kali menggagahi IS dengan ancaman, karena ijazahnya belum juga diberikan. Perbuatan itu dilakukan pada hari yang berbeda. Nama BS juga disebut sebagai salah seorang dari 11 pelaku yang memerkosa IS. Namun, keluarga korban menyebut putra BS merupakan personel kepolisian sempat mengancam mereka. Belakangan BS bahkan disebutkan menari-nari mengejek keluarga korban karena kasusnya tidak diproses. (mdc/bay)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*