Home » Cirebon » Polisi Kabupaten Cirebon “Masuk Angin”? Preman Pengancam Warga belum Ditahan
Korban saat melapor ke polisi

Polisi Kabupaten Cirebon “Masuk Angin”? Preman Pengancam Warga belum Ditahan

CIREBON – Masih seputar kasus penyerangan dan pengancaman kepada seorang warga yang dilakukan oleh sejumlah preman berkedok LSM, tekait lahan proyek PLTU-2, di Kabupaten Cirebon. Hingga saat ini, polisi belum juga melakukan penangkapan, apalagi penahanan terhadap pelaku. Padahal, jelas-jelas segerombolan preman “berbaju” LSM itu mendatangi rumah seorang warga Desa Kanci Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, bernama Abdul Rochmani (56).

Para preman yang datang menggunakan sepeda motor itu bahkan sempat membuat bising lingkungan tempat tinggal korban dengan suara sepeda motor dan teriakannya. Hingga membuat penghuni rumah dan warga sekitar ketakutan. “Mana Abdul Rochmani!!!! Awas akan kita habisi dia!” demikian teriakan para preman itu.

Ironisnya, meski demikian, polisi di Kabupaten Cirebon, dalam hal ini Polsek Sedong (yang menangani kasusnya) tidak juga melakukan penangkapan terhadap pelaku. Bahkan, Kapolsek Sedong, AKP Guntur Heriyanto menyatakan kalau dalam kasus tersebut tidak ditemukan unsur pidana. Pihaknya, kini masih melakukan penyelidikan. “Kita sangat berhati-hati dalam menangani kasus ini,” ujar Kapolsek Sedong.

Seorang dari pelaku, Jaenudin, hingga saat inipun hanya distatuskan sebagai saksi. “Kami masih terus melakukan pemeriksaan. Dan Jaenudin ini sebagai saksi kunci,” timpal Kanitreskrim Polsek Sedong, Aiptu Nana Yuhana.

Kata Nana, dari hasil pemeriksaan, Jaenudin mengakui kalau dirinya dan teman-temannya yang berjumlah belasan orang mendatangi rumah korban. Namun, yang mengatakan kalimat ancaman pembunuhan bukan dirinya.

“Waktu dimintai keterangan, Jaenudin membenarkan bahwa dirinya dan teman-temannya itu mendatangi rumah korban. Namun, saat ditanya siapa yang mengatakan kalimat ancaman tersebut, Jaenudin mengaku, itu bukan saya. Berarti, ada orang lain dalam kelompok itu yang mengatakan ancaman tersebut,” ungkap Aiptu Nana.

Dikatakannya, pihaknya tidak akan gegabah dalam menangani kasus tersebut. Dirinya mengaku, selalu intens komunikasi dengan jaksa, untuk menentukan pasal apa yang bisa diterapkan dalam kasus ini.

“Ini masih dalam tahap penyelidikan. Belum masuk ke BAP. Kami lagi mengumpulkan alat bukti terlebih dahulu. Diantaranya, memintai keterangan korban, saksi dan terlapor,” jelasnya.

Sementara itu, di tempat berbeda, Moh. Aan Anwaruddin, tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Cirebon, mendesak kepada pihak kepolisian agar segera menangkap preman-preman yang melakukan intimidasi tersebut. Hal ini sebagai bukti, bahwa hukum Indonesia tidak lemah terhadap premanisme, agar kepercayaan masyarakat kepada Polri tetap terjaga.

“Itu sudah jelas, dari kalimat Jaenudin, yang diduga koordinator pelaku intimidasi. Kalau yang mengatakan ancaman pembunuhan bukan dirinya, berarti dengan kata lain, ada salah satu dari mereka yang mengatakan ancaman itu. Jaenudin lah, kunci dari pengungkapan kasus ini,” tegas Aan.

Dia berharap, dalam kasus ini polisi tidak ‘masuk angin’. (crd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*