Home » Cirebon » 40 Siswa SD Di Ciledug Gadaikan Nyawa Tiap Hari
40 Siswa SD Di Ciledug Gadaikan Nyawa Tiap Hari

40 Siswa SD Di Ciledug Gadaikan Nyawa Tiap Hari




CIREBON – Pululah siswa SDN 2 Ciledug Wetan harus melewati Sungai Cisanggarung ketika hendak pergi dan pulang sekolah. Mereka harus bertaruh nyawa saat menimba ilmu, karena akses terdekat untuk menuju ke sekolah dari blok pelabuhan Desa Ciledug Wetan, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, hanyalah dengan melewati Sungai Cisanggarung.

Aktifis Wilayah Timur Cirebon (WTC), Adang Juhandi mengatakan, bahwa ditemukannya wilayah tanpa ada penghubung jembatan menjadikan masyarakatnya terisolir. Mau tidak mau dampaknya akan merembet pada tingkat IPM, daya beli masyarakat, serta kesehatannya. Kendatipun yang menjadi persoalannya adalah terkait pembiayaan, tetapi terang lelaki berkacamata itu, mestinya pemerintah menjadikan skala prioritas. “Agar tidak sampai yang dikorbankan aset bangsa, yakni anak-anak yang mengenyam di pendidikan sekolah dasar,” ujaranya, Rabu (7/9).

Maka dari itu, lanjutnya, mestilah menjadi bahan pemikiran bersama mulai dari level bawah sampai kepada level atas. Ketika hal itu terjadi, ia pun mempertanyakan status yang telah disandang oleh Kab Cirebon sebagai kabupaten ramah anak. “Dari sisi mana kabupaten Cirebon dinilai ramah anaknya, kalau anak-anak kita masih ada untuk mengenyam pendidikan saja terkendala dengan akses jalan seperti ini, taruhannya nyawa,” kata dia,

Sementara Rohatin warga sekitar mengharapkan segera diadakan jembatan. Karena selain siswa yang membutuhkannya, jembatan juga dibutuhkan oleh masyarakat Ciledug pada umumnya. Karena jembatan tersebut akan menjadi akses penghubung antara Blok Kebon Awi dengan Blok Pelabuhan. Ia memaparkan jangan hanya melihat siswa saja yang intens setiap hari harus melewati sungai Cisanggarung, tetapi masyarakat umum pun membutuhkannya.

“Untuk sekarang ini memang yang sangat membutuhkannya anak-anak, karena kita mengkhawatirkan keselamatannya, manakala harus memutar, memerlukan kendaraan, sedangkan bagi yang tidak memilikinya, akses itu cukup jauh,” ucapnya.

Sementara itu, Guru SDN 2 Ciledugwetan, Faridah Hanura menjelaskan, ada sekitar 40 murid yang rumahnya berada di seberang Sungai Cisanggarung. Mereka terpaksa menerjang sungai tersebut untuk bisa sampai ke sekolah. “Kami sangat memaklumi ketika ada anak yang tidak masuk sekolah, karena keadaan tersebut (tak ada jembatan,red). Terutama musim penghujan. Tapi bila terus tak masuk sekolah, kasihan juga para murid akan tertinggal pelajaran,” ujarnya.

Dirinya mengharapkan, pihak terkait membuatkan jembatan permanen. Agar, para murid dapat dengan nyaman saat melintasi sungai tersebut. “Sudah puluhan tahun, masyarakat dan anak sekolah menyeberangi Sungai Cisanggarung tanpa jembatan. Kalau memutar harus menempuh jarak kisaran lima kilometer. Bagi yang memiliki kendaraan, tak ada masalah. Tapi, yang tak memiliki kendaraan, harus menantang maut di Sungai Cisanggarung, guna mencapai tempat tujuannya,” harapannya. (crd)




One comment

  1. Pak Adang Juhandi sang aktivis Cirebon Timur kemana saja, koq baru tahu ada anak anak sekolah nyebrang sungai ya, setelah rame dimedia sosial ? Jalan jalan dong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top