Home » Artikel » Wangsit Siliwangi juga Mengisyaratkan adanya Suharto Pengganti Sukarno
Wangsit Siliwangi juga Mengisyaratkan adanya Suharto Pengganti Sukarno

Wangsit Siliwangi juga Mengisyaratkan adanya Suharto Pengganti Sukarno

WANGSIT Siliwangi juga mengisyaratkan akan adanya Suharto sebagai pemimpin baru menggantikan Sukarno. Sungguh mengherankan. Padahal, Wangsit Siliwangi itu lahir ratusan tahun sebelum Sukarno dan Suharto Lahir.

Jauh sebelum negeri ini merdeka, bahkan sebelum penjajahan terjadi secara merata di Indonesia, ketika negeri ini masih dikuasai para raja yang menurut para pedagang Arab saat itu sebagai jaziratul muluk, ‘tanah yang banyak rajanya’, Prabu Siliwangi telah mengisyaratkan bahwa negeri ini akan dipimpin oleh Soekarno yang kemudian diganti oleh Soeharto. Memang Sang Prabu tidak pernah menyebutkan namanya secara persis. Ia hanya menggambarkan ciri-cirinya. Bahkan, ciri-cirinya pun tidak tersurat secara jelas, tetapi memberikan ruang untuk ditelusuri rahasia yang tersirat dari uganya.

Berikut petikan paragraf Wangsit Siliwangi:

“…ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lakon! Iraha? Hanteu lila, anggeus témbong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang. Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain teureuh Pajajaran”.

Dalam bahasa Indonesia.

“…ganti lagi zaman. Ganti zaman, ganti kisah! Kapan? Tidak lama setelah tampak bulan di siang hari yang disusul melintasnya bintang terang bercahaya. Di bekas negara kita, berdiri lagi kerajaan. Kerajaan di dalam kerajaan dan rajanya bukan trah Pajajaran”.

Karir-Soeharto Sungguh mengherankan apa yang yang ada dalam paragraf itu benar-benar terjadi dengan presisi yang mencengangkan: “Berganti lagi jaman. Ganti jaman ganti cerita!” Kapan? “Tidak lama, setelah bulan muncul di siang hari, disusul oleh lewatnya komet yang terang benderang. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran”.

Coba tebak, Negara Republik Indonesia yang beribu kota di Sunda Kalapa. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran. Sukarno bukan turunan Pajajaran, dia keturunan Singasari. Fenomena alam yang disebutkan mengiringi kelahiran ‘kerajaan’ baru tersebut. “….anggeus témbong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang….”. Terjemahan yang paling mungkin memang fenomena kemunculan bulan dan komet. Namun fenomena dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki menyerupai penampakan bulan dan kilatan bintang di langit.

Selepas Sukarno yang berkuasa hanya sebentar itu, Suharto datang menggantikannya. Prabu Siliwangi melukiskannya dengan adanya kerajaan di dalam kerajaan. Maksudnya, sesungguhnya Soeharto itu sudah mendirikan kerajaan dan menjadi rajanya sekaligus sejak Sukarno sakit parah.

Sukarno memang pernah sakit parah sehingga harus mendatangkan dokter dari Cina, Peking. Saat Soekarno sakit itu Amerika Serikat beserta negara-negara sekutu kapitalisnya ketar-ketir, was-was, takut setengah mati. Mereka sangat takut jika Partai Komunis Indonesia akan memimpin Indonesia pasca-Sukarno. Ketakutan mereka sangat beralasan karena PKI adalah partai komunis terbesar di dunia dan nomor empat pemenang Pemilu di Indonesia. Oleh sebab itu, AS menyusun strategi dan skenario untuk memenangkan persaingan. Memang saat itu sudah terjadi persaingan sengit antara kapitalis dan komunis di seluruh dunia yang merembes ke dalam negeri.

Pada mulanya AS akan menggunakan Jenderal Ahmad Yani dan atau Jenderal A.H. Nasution. AS secara intens mendekati keduanya. Akan tetapi, kedua jenderal itu menolak mengikuti skenario AS dengan tegas dengan alasan keduanya sangat setia pada Pancasila dan Bung Karno. Sukarno memang sangat anti-AS, antikapitalis sekaligus pembendung komunis yang gigih. Saat Soekarno berkuasa, baik kapitalis maupun komunis tidak bisa leluasa meluaskan pengaruhnya secara bebas di Indonesia. Sukarno memagarinya dengan doktrin Nasionalis-Agama-Komunis (Nasakom). Komunis dipaksa Sukarno harus mampu menyesuaikan diri dengan budaya dan nafas bangsa. Adapun kapitalis memang dipandang sebagai sumber kolonialisme-imperialisme. Jadi, selama kepemimpinan Sukarno, kapitalis dan komunis hanya dalam keadaan saling bisu sambil menaruh dendam.

Karena kedua jenderal sohor itu menolak, AS mencari sosok lain. Akhirnya, pilihan jatuh kepada seorang jenderal yang menurut CIA tidak terkenal, bermasalah, tetapi lumayan cerdas. Sosok itu adalah Suharto.

Sejak saat itu, Suharto mulai mengembangkan kerajaaannya yang setiap hari semakin kuat. Sementara itu, Soekarno meskipun sudah sembuh dari sakit, kekuasaannya semakin hari semakin menurun yang memuncak pada peristiwa Gerakan 30 September. Sejak G-30-S itu, sesungguhnya Suharto telah mengendalikan kerajaannya di dalam kerajaan Sukarno. Bahkan, kerajaan Suharto lebih kuat dibandingkan kerajaan Sukarno. Kerajaan Sukarno hanya berputar pada masalah politis yang kerap hambar di tingkat teknis pelaksanaan, sedangkan Suharto memiliki banyak pasukan militer dan politisi yang bisa segera digerakkan. Apalagi setelah Supersemar yang kontroversial itu, kerajaan Sukarno semakin lemah, sementara kerajaan Suharto semakin mendekati bentuk aslinya. Itulah yang dimaksud kerajaan di dalam kerajaan. (red/berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top