Home » Bekasi » Kekeringan, Hasil Panen Padi Petani Bekasi Menyusut
Warga mengambil air di kubangan Sungai Cipamingkis di Cibarusah, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (26/7). Menurut warga sudah dalam waktu tiga bulan terakhir di wilayah sekitar dilanda kekeringan, akibatnya banyak warga yang mengandalkan air kubangan untuk memenuhi kebutuhan mereka. ANTARA FOTO/Risky Andrianto/asf/kye/15.

Kekeringan, Hasil Panen Padi Petani Bekasi Menyusut

BEKASI – Petani di Kecamatan Cibarusah kali ini hanya bisa mengelus dada, musim kering berkepanjangan berdampak terhadap hasil panen padi yang sedikit. Lantaran tidak banyak mendapat pasokan air ke area pesawahan di musim tanam.

Warga Desa Sirnajati, Cibarusah, Watib (46) mengungkapkan, panen kali ini banyak petani mengalami kerugian yang besar. Hasil panen padi yang sedikit tidak bisa mengembalikan modal yang dikeluarkan sebelumnya. “Panen kali ini bikin lieur (pusing) moal untung malah buntung,” keluhnya kepada Bekasi Publisher.

Menurutnya, selama masa tanam dia sudah mengeluarkan modal sebanyak Rp6 juta untuk dua hektar sawahnya, tetapi pada musim panen dia hanya mendapatkan lima kwintal padi dengan taksiran senilai Rp4 juta. Jika dipotong dengan biaya kuli dan susut padi diperkirakan hanya menyisakan uang Rp3 juta.

Bahkan, dia juga mengungkapkan, ada beberapa bidang sawah miliknya yang tidak mendapatkan bantuan penyedotan air, sehingga panen gagal total.

“Untungnya yang sekarang dipanen ada bantuan sedot air dari irigasi, walaupun hasilnya tidak seberapa,” terangnya.

Watib menambahkan, kekeringan juga berdampak pada kualitas padi, sehingga hasil jual gabah anjlok dan kalah bersaing dengan padi yang ada di Karawang. Gabah hasil panen petani Cibarusah hanya dipatok seharga Rp400 ribu per kwintal, sementara dari Karawang memiliki harga jual jauh lebih tinggi.

“Jauh banget harganya, di sana (Karawang) bisa Rp500 ribu atau Rp550 ribu per kwintalnya,” bebernya.

Perlu diketahui, sebanyak 324 hektar lahan persawahan di Kecamatan Serangbaru dan Cibarusah mengalami kekeringan dan diprediksi kegagalan panen mengancam petani setempat.

Tidak hanya itu, kekeringan di areal pesawahan disebabkan mulai mengeringnya saluran air di irigasi akibat kemarau panjang.

Sementara itu, Camat Cibarusah, Imam Santoso membenarkan di wilayahnya terjadi kekeringan air. Dia memastikan, tiga desa yakni, Desa Ridogalih, Desa Sirnajati, dan Desa Ridomanah sudah kering. “Tiga desa itu sudah dalam siaga satu,”  katanya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi harus memiliki solusi menghadapi kekeringan di Kecamatan Cibarusah.
Imam menegaskan, selama ini sudah ada tower air di beberapa desa untuk membantu mereka yang mengalami kekeringan, namun ini sifatnya sementara. Keadaan kekeringan yang melanda tiga desa di wilayah kerjanya itu memang baru masuk dalam katagori siaga satu

“Kita sudah siaga satu di Kecamatan Cibaruah,” pungkas mantan Kabid di BPPT tersebut. (fjr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.