Home » Cirebon » Inilah Rangkaian Acara Di Kec Ciledug Meriahkan HUT Kab Cirebon Ke-535

Inilah Rangkaian Acara Di Kec Ciledug Meriahkan HUT Kab Cirebon Ke-535

CIREBON – Hari Jadi Kabupaten Cirebon ke 535 jatuh pada hari ini, 2 April 2017. Pelaksanaan HUT diperingati oleh berbagai institusi dan seluruh perkantoran pemerintah kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Cirebon. Seperti halnya yang terpantau di halaman Kantor Kecamatan Ciledug, Minggu (2/4/2017).

Terlihat jelas di sana, tingginya antusisasme warga masyarakat menyaksikan pagelaran pentas seni dan budaya sebagai pembuka dari rangkaian kegiatan Peringatan Hari Jadi Kabupaten Cirebon yang puncak acaranya akan ditutup dengan gebyar gerak jalan santai pada 18 April mendatang.

Sementara pada Jumat (31/3), di Kec Ciledug juga digelar pentas seni dan budaya yang disaksikan serta diikuti oleh seluruh jajaran Muspika Kecamatan Ciledug serta jajaran para Kuwu se-Kecamatan Ciledug.

Camat Ciledug, Solihin kepada jabarpublisher.com mengatakan, dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Cirebon ke 535 tahun ini, pihaknya menyelenggarakan berbagai kegiatan pentas seni dan budaya sebagai skala prioritas. Hal itu sebagai upaya melestarikan dan menumbuhkembangkan rasa cinta kepada generasi muda dan rasa memiliki terhadap seni dan budaya warisan leluhur.

Masih dikatakan Solihin, berbagai kegiatan pentas seni dan budaya khas Cirebon tidak hanya digelar pada siang harinya saja, namun pada malam hari pihak panitia juga mengadakan Sintren (atau juga dikenal dengan Lais) yang merupakan kesenian tari tradisional masyarakat Cirebon. Diwaktu dan hari yang berbeda, rencananya dirinya bersama panitia akan mengadakan juga pagelaran wayang golek semalaman suntuk.

“Selain itu, kami mengadakan Lomba Desa Siaga yang diikuti oleh sepuluh (10) desa yang ada di wilayah Kecamatan Ciledug. Kriteria yang kami nilai terkait kebersihan, keindahan, ketertiban, administrasi desa, jadwal piket kantor, siskamling dan lainnya. Uniknya bukan hanya juri kecamatan saja yang memberikan penilaian, namun masukan masyarakat desa setempat pun dapat berperan dalam mempengaruhi penilaian juri,” ujarnya.

Dikatakan Solihin, dengan adanya pagelaran wayang kulit yang tak lain merupakan kebudayaan tradisional yang komunikatif dan mengandung beberapa unsur. Diantaranya unsur tontonan, unsur tuntunan dan unsur panutan. Dari ketiga unsur tersebut satu dengan lainnya akan saling berkaitan. “Saya harap kesenian wayang juga dapat terus kita lestarikan bersama sebagai hasil karya para seniman yang tidak ternilai harganya,” papar Solihin. (crd/adv)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.