Home » Cirebon » Harganya Rp 30 Juta, Pengadaan Server Di RSUD Waled Bengkak Sampai Rp 900 Juta?
Harganya Rp 30 Juta, Pengadaan Server Di RSUD Waled Bengkak Sampai Rp 900 Juta?

Harganya Rp 30 Juta, Pengadaan Server Di RSUD Waled Bengkak Sampai Rp 900 Juta?

CIREBON – Lagi-lagi kejanggalan di RSUD Waled, Kabupaten Cirebon terungkap. Setelah adanya temuan BPK Jabar pada proyek Gedung Baru IGD tahun 2017 dan sejumlah kasus korupsi yang tengah ditangani penegak hukum, kali ini mencuat kembali dugaan mark up dan penyalahgunaan wewenang pada program pengadaan server billing system senilai Rp 199 juta.

KAWAL – Ketum LASKAR Indonesia, Koko Ali Permana saat melaporkan dugaan penyimpangan di RSUD Waled ke BPK.

Yang lebih mengagetkan lagi, anggaran pada program itu kini membengkak sampai Rp 900 juta-an. Disinyalir, hal ini terjadi karena mahalnya biaya akomodasi yang diberikan pihak RSUD Waled kepada kontraktor (CV Kronos) yang tanpa diikat kerjasama.

Guna menelisik lebih dalam masalah ini, JP pun mewawancarai sejumlah sumber yang mengetahui alur pengadaan ini dari awal. Kata sumber, program tersebut muncul pada Agustus 2017 dengan datangnya seseorang bernama Abdullah. Saat itu, project tersebut sudah berjalan 80%. “Abdullah dibawa oleh Dudi Suryadarma yang ngakunya orang Diskominfo. Tapi pas saya cek, bukan. Dudi sendiri dibawa oleh Asep Kurnia, Kabag Keuangan RSUD Waled,” ungkapnya, kemarin.

Sumber menjelaskan, selanjutnya Ia diminta Wadir RSUD Waled untuk menyerahkan data rumah sakit, padahal dengan Abdullah (CV Kronos) belum terikat kerjasama. “Wadir minta saya untuk kasih semua data ke Abdullah, baik data pasien, dokter, tarif dan sebagainya. Lalu saya bilang, data ini kan sifatnya rahasia, apa lagi belum terikat kerjasama. Lalu kata Wadir, ini perintah direktur. Akhirnya karena terus mendesak sejumlah pihak, data pun terpaksa diberikan,” terang sumber.

SPESIFIKASI – Inilah item spesifekasi pembelian server di CV Wirautama.

Kata dia, Soleh Bastaman (Kabag Kesekertariatan) yang ditunjuk sebagai PPK dalam proyek tersebut juga mengaku bingung karena tidak pernah mengajukan program itu. “Kata pak Soleh, ini siapa yang ngajukan, tiba-tiba (server) datang dan disuruh tanda tangan. Disitu tertulis 2 unit Rp 199 juta, merk system micro. Pas saya cek ternyata harganya Rp 30 – 40 juta, itu harga distributor resmi,” jelas sumber yang bisa dipercaya itu.

Akhirnya, CV Kronos melakukan pembelian server tersebut ke sebuah vendor bernama CV Wirautama. Namun setelah dicek, CV Wirautama tidak terdaftar di e-katalog sebagai CV yang menyediakan server billing system. CV Wirautama merupakan CV yang bergerak dibidang garmen dan manufaktur di daerah Cimahi.

Singkat sumber, CV Kronos akhirnya menyanggupi bahwa server billing system RSUD Waled siap diuji coba pada Desember 2017. “Awalnya dia janji ke manajemen 1 Desember uji coba dan mulai bisa dipakai pada 1 Januari. Tapi faktanya, Desember lewat, Januari juga lewat (belum diuji coba). Akhirnya pada 1 Februari 2018, Kabag Perencanaan mengambil keputusan untuk menyerahkan data RS ke mereka (CV Kronos). Kata kabag, mau ancur-ancuran masa bodo,” ujarnya.

Tepat tengah malam per tanggal 1 Februari 2018, server billing system tersebut akhirnya ‘dipaksa’ beroperasi padahal belum siap. Ternyata benar, setelah aktivasi dilakukan, kondisinya amburadul, banyak data yang kacau, tertukar, salah input dan sebagainya. Seperti contoh kasus, seorang pasien BPJS mau menyelesaikan administrasi ternyata yang muncul pada data RS adalah pasien umum, tarif pemeriksaan lab yang seharusnya Rp 100 ribu tapi muncul angka lain, dan banyak lagi fakta kacau lainnya.

Kondisi ini juga sempat menjadi buah mulut di jajaran manajemen dan pasien di RS Waled selama beberapa minggu, bahkan penghitungan administrasi akhirnya diinput secara manual. Namun, jajaran manajemen sendiri tak bisa bertindak tegas, mengingat pelaksanaan proyek jasa teknologi tersebut tanpa diikat kerja sama. Akhirnya pihak CV Kronos pun bisa menuntut banyak hal kepada manajemen RS termasuk dengan meminta biaya akomodasi yang fantastis. Borok kinerja CV Kronos maupun jajaran di internal RSUD Waled baru terungkap dalam rapat evaluasi awal April lalu.

WALED – Belum tuntas penelisikan sejumlah kasus korupsi di RSUD Waled kini muncul masalah lainnya.

Ada Akomodasi Rp 12 Juta Tiap Minggu

Sumber terpercaya itu, kembali mengupas masalah bobroknya pengadaan server billing sistem di RSUD Waled, terkait adanya biaya akomodasi sebesar Rp 12 juta per minggu. “Yang lebih aneh lagi, ini kan belum ada kontrak kerjasama (dengan CV. Kronos), tapi setiap Abdullah datang ke sini, akomodasi ditanggung RS sebesar Rp 12 juta per minggu. Kata orang keuangan, per Desember 2017 kemarin saja, sudah mencapai Rp 500 juta. Dan saya perkirakan sampai sekarang ini mencapai 900 juta, itu sudah termasuk server. Entah di belakang ada deal-deal apa, yang saya sayangkan ini kan belum ada kontrak kerjasama, kok bisa membela mati-matian,” ucapnya.

Sedangkan sumber valid lainnya mengatakan, kejanggalan pada proyek non fisik yang sumber dananya dari internal RS sendiri, juga mengakibatkan kekisruhan di internal. Ada sejumlah pihak yang menolak dilibatkan kemudian didepak dari jabatannya. “Ada yang tidak mau dilibatkan, tidak mau tanda tangan, akhirnya digeser. Kalau yang hati-hati pasti berfikir bolak balik lah karena harga yang diterapkan tidak wajar, dan pasti akan timbul masalah,” cetus sumber sambil menyebutkan bahwa ide pengadaan server awalnya dicetuskan oleh Asep.

Sementara itu, manajemen RSUD Waled saat dikonfirmasi soal proyek pengadaan server billing system terkesan menghindar. Selasa (8/5/2018) saat wartawan JP mendatangi RSUD Waled di Lantai 4, tak satupun jajaran manajemen yang mau buka suara. Padahal, baik PPK, Kabag Keuangan, Wadir hingga Direktur, saat itu ada di tempat. “Nanti saja mas kalau mau konfirmasi hari Jumat,” ujar PPK Soleh Bastaman. Hari Jumat (11/5/2018) pun berlalu tanpa informasi yang bisa didapat dari pihak manajemen.

Demi mengejar validitas dan keberimbangan berita, JP kembali mendatangi RSUD Waled, pada Selasa (15/5/2018). Namun lagi-lagi, jajaran manajemen tidak bersedia menemui wartawan. “Pak Soleh masih ada tamu, pak wadir juga, kalau mau ya nunggu, tapi lama gak tau sampai jam berapa,” ujar resepsionis menyampaikan keterangan kepada wartawan. Siang tadi, wartawan JP menunggu di ruang tunggu selama 1 jam lebih, namun karena tak ada kejelasan pihak-pihak yang bisa ditemui untuk dikonfirmasi, akhirnya meninggalkan RSUD Waled. (crd/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top