Home » Cirebon » Habis Rp 900 Juta Lebih, Server RSUD Waled Akhirnya Tak Dipakai. Kenapa?

Habis Rp 900 Juta Lebih, Server RSUD Waled Akhirnya Tak Dipakai. Kenapa?

CIREBON – Masih ingat proyek pengadaan server di RSUD Waled dengan biaya fantastis mencapai Rp 900 juta lebih? Baca: Harganya Rp 30 Juta, Pengadaan Server Di RSUD Waled Bengkak Sampai Rp 900 Juta?

Informasi terbaru dari sumber jabarpublisher.com, Kamis (6/9/2018) menyebutkan, bahwa server mahal itu, kini sudah tidak dipakai lagi per tanggal 1 September 2018. Begitu juga dengan keberadaan CV. Kronos, pengusaha yang menjadi mitra RSUD Waled dalam proyek itu, kini hilang tanpa jejak.

“Server itu sudah tidak dipakai lagi, Abdullah Soedarmo dan timnya dari CV. Kronos juga sudah menghilang. Pertanyaannya, dana yang ratusan juta mungkin sampai 1 miliar lebih itu manfaatnya apa, kok menguap begitu saja,” ungkap sumber internal terpercaya itu. Ditanya alasan mendasar mengapa server tersebut tidak dipakai, sumber mengaku tidak tahu secara pasti.

“Saya kurang tahu persis, apakah karena direktur sudah sadar, atau karena tekanan dari kiri kanan atau karena pusing. Yang pasti faktanya, saat ini server baru itu tidak dipakai lagi, CV Kronos menghilang dan sekarang kembali pakai server lama, dengan dioperasikan oleh orang-orang lama,” terangnya.

Ia menegaskan, tim IT RSUD Waled juga enggan menggunakan ‘server mahal’ tersebut, karena dikhawatirkan menjadi temuan BPK atau aparat penegak hukum yang akhirnya berdampak buruk di kemudian hari. “Mereka gak mau pakai server itu karena masih sengketa, jadi pakai yang lama,” imbuh sumber.

Ia juga menyayangkan sikap manajemen yang seolah acuh menyikapi masalah ini. Mengingat sejak awal pengadaan dengan CV Kronos, pihak RSUD Waled tidak mengikatnya lewat kerjasama/kontrak kerja. Begitu pula saat pengusahanya menghilang, pihak manajemen tidak melakukan upaya apapun. “Ini ada apa, jangan kira karyawan RSUD Waled itu hanya bisa diam. Mungkin terlihat diam, tapi sebenarnya mereka tahu banyak soal sikap manajemen yang banyak bermain api,” tandas sumber.

Sementara itu, Manajemen RSUD Waled saat dikonfirmasi Senin (10/9/2018) tidak satupun berada di RSUD Waled. “Semua jajaran manajemen sedang rapat di Sumber,” ujar salah seorang pegawai RSUD Walde. Begitu pula saat JP menghubungi sejumlah nomor manajemen baik Direktur maupun Wadir RSUD Waled, HP mereka dalam keadaan tidak aktif.

Ketua Umum LASKAR Indonesia, Koko Ali Permana mengaku tidak akan main-main dalam menyikapi sejumlah dugaan penyelewengan anggaran yang dilakukan manajemen RSUD Waled. “Semua sudah ada prosedur dan aturan mainnya, jika tidak sesuai maka akan kami sikat dan laporkan ke institusi penegak hukum,” ujarnya, Selasa (11/9/2018). Baca: Kawal Borok Korupsi RSUD Waled, Lembaga Ini Datangi BPK

Untuk diketahui, beberapa waktu lalu pihaknya mendatangi Kantor BPK Perwakilan Jabar. “Kedatangan kami ke BPK sebagai tindak lanjut dari pemberitaan-pemberitaan tentang RSUD Waled. Kami juga meminta BPK memberikan hasil audit (Laporan Hasil Pemeriksaan/LHP) Kab Cirebon tahun 2017 guna menyoroti sejumlah persoalan di RSUD Waled,” pungkasnya. (crd/jay)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.