Home » Bandung » Telkom University Gelar Seminar Online Telemedicine

Telkom University Gelar Seminar Online Telemedicine

TELKOM University sebagai kampus swasta terbaik di Indonesia tercermin dari Sivitas Akademika yang terus berbenah diri, baik mahasiswa, tenaga pengajar, maupun alumninya. Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) Angkatan 1994 menyelenggarakan Seminar Online tentang Telemedicine, konsep dan implementasinya.

Acara ini bertujuan untuk menggali potensi peran Kampus dan Alumni Telkom University serta berbagai hal esensial untuk sinergi para pihak bersama kedepan. Diselenggarakan pada Kamis (18/06) melalui Aplikasi Zoom dan Live Streaming di YouTube Channel Telkom University.

Seminar Online ini terbuka untuk umum dengan jumlah partisipan lebih dari 900 dan menghadirkan beberapa pembicara antara lain Anies Baswedan, Ph.D selaku Gubernur DKI Jakarta, Dr. Ridwan Kamil, ST., MUD selaku Gubernur Jawa Barat, serta beberapa praktisi dibidang kesehatan.

Dalam sambutannya, Prof. Adiwijaya menyampaikan ucapan terima kasih kepada alumni Teknik Industri Angkatan 1994 dan rekan-rekan yang bergerak dibidang kesehatan sudah menyelenggarakan Seminar Online ini. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan bahwa tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga sebagai stimulus untuk berkontribusi nyata bagi bangsa.
“Alumni dari Telkom University kini sudah lebih sekitar 52.000 yang tersebar di lebih dari 40 negara. Dengan demikian, kami bisa memaksimallkan dalam berkontribusi untuk pembangunan nasional, mulai dari membangun SDM yang unggul, pengembangan inovasi, dan peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional,” ucapnya.

Prof. Adiwijaya juga menyampaikan bahwa kondisi fasilitas kesehatan di Indonesia belum merata, ini merupakan tantangan untuk kita semua sehingga memunculkan peluang berkontribusi melalui telemedicine. Dalam kesempatan ini, Rektor Tel-U menyampaikan beberapa inovasi Telemedicine dari Telkom University. Telemedicine merupakan sebuah solusi yang tidak hanya menguntungkan bagi rekan-rekan yang bekerja di dunia kesehatan, tetapi juga bagi masyarakat luas. Hasil inovasi tersbut antara lain, aplikasi Faskesku (penghubung masyarakat dengan RS dalam layanan Telemedicine yang cepat, terintegerasi dan mudah), alat prediksi serangan jantung (AMNOS), dan beberapa Robot yang sudah dimanfaatkan dalam penanganan Covid-19.

Selanjutnya dr. Supriyanto D, SpB, Mkes, FINANCS selaku Direktur Utama RSUD Terbaik Sedunia memaparkan materi mengenai Implementasi Telemedicine. Dr. Supriyanto menjelaskan bahwa ada tuntutan masyarakat di era digital, yaitu pelayanan serba cepat, aksesbilitas pelayanan tinggi, biaya mendapatkan pelayanan semakin murah dan transparansi informasi publik.
“Ada transisi dari konvensional ke revolusi industri 4.0 yaitu bernama lorong transcendental. Jika kita gagal mengambil peran pada transisi tersebut, kita akan terus berkutat pada media konvensional,” ucapnya.


Dr. Supriyanto menambahkan bahwa beberapa strategi dapat kita lakukan dalam membangun sistem yaitu survive dengan cara efektif dan efisien, pengembangan melalui inovatif dan entrepreneurship dan keberlanjutan dengan visi-misi yang kuat. Telemedicine dapat menjadi dasar sebuah sistem dalam dunia medis, hal tersebut karena telemedicine merupakan rangkaian pelayanan kesehatan dari hulu sampai hilir, berkesinambungan, kolaboratif dan kompleks.

Kemudian Ridwan Kamil selaku Gubernur Jawa Barat mengemukakan pandangannya. Kita sudah melewati tiga interupsi, yaitu Revolusi Industri 4.0, Revolusi Internet dan Interupsi melalui COVID-19. Di Jawa Barat, Ridwan Kamil memiliki lima rumus dalam menghadapi pandemi yaitu, selalu proaktif dan tidak pernah menunggu, selalu transparan, selalu ilmiah secara kesehatan dan ekonomi, kolaboratif dan inovatif.

“Hasilnya dengan pencegahan yang dimaksimalkan, sudah enam minggu kita reproduksi Covid sudah dibawah 1. Kasus juga sudah turun, sekarang kasus yang aktif atau dirawat sudah turun ke ranking 5 ya. Porsentase terhadap populasi kita di ranking 27. Kesimpulan sementara Covid-19 di Jawa Barat terkendali, walaupun dekat dengan DKI Jakarta. Mudah-mudahan kami jaga pada new normal,” ucapnya.
Terkait Telemedicine, Jawa Barat memiliki disparitas kesehatan yang sangat besar, yaitu wilayahnya terlalu luas dan secara geografis terdapat banyak gunung. Hal tersebut menyebabkan report area kesusahan untuk akses menuju puskesmas di pelosok. Disparitas kesehatan ini dimulai dengan desentralisasi pelayanan kesehatan. Jawa Barat juga membuat Desa Digital dan Mobile Puskesmas yang dapat melayani masyarakat secara optimal.

Ridwan Kamil juga menyampaikan bahwa teknologi merupakan sebuah konsekuensi, siapa yang dekat dengan teknologi maka hidupnya akan mudah, dan sebaliknya. Maka diharapkan dengan Telemedicine ini mampu menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kemudian Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta memaparkan mengenai perspektif penggunaan Telemedicine. Anies Baswedan menjelaskan bahwa kondisi pandemi yang sekarang kita hadapi menyebabkan banyak krisis terutama dibidang kesehatan dan ekonomi. Namun di sisi lain, kita juga merasakan lompatan pemanfaatan teknologi.

“Pada saat kita memanfaatkan teknologi, sesungguhnya yang paling penting adalah banyak sumber daya di sekitar yang tidak kita manfaatkan secara maksimal. Teknologi sebagai pendamping termasuk dalam dunia medis,” ucapnya.

Pandemi ini menjadi kesempatan yang penting bagi telekomunikasi dengan dunia medis dalam melakukan kolaborasi. Indonesia dengan jumlah penduduk yang tersebar di berbagai daerah, namun sebaran tenaga medis yang tidak seimbang. Ini menjadikan telemedicine menjadi solusi untuk kita semua. Perlu ada kolaborasi yang serius dari aspek regulasi sampai aspek teknis eksekusinya.

Sudah saatnya kita bukan hanya menafsirkan teori, tetapi juga praktek-praktek yang dilakukan terkait dengan Telemedicine. Tantangan untuk kita yaitu pelayanan medis menggunakan teknologi atau telemedicine bisa seoptimal mungkin. Aspek yang perlu diperhatikan secara serius yaitu kepercayaan dari pasien kepada tim medis secara jarak jauh. Hadirnya telemedicine ini diharapkan dapat meningkatkan ekspektasi publik terhadap layanan masyarakat.

Kemudian Muh. Irfan selaku Praktisi Telekomunikasi juga memaparkan mengenai Protokol Ekosistem Data dan Pengembangan Telemedicine. Saat ini, kita sedang menghadapi hal yang tidak terlihat yaitu virus. Banyak protokol yang diterapkan untuk menghadapi pandemi ini yang mengharuskan kita untuk berkomunikasi secara jarak jauh. Aplikasi kesehatan kini memiliki pertumbuhan trafic yang tinggi.

“Penggunaan aplikasi kesehatan ini merupakan penerapan dari teknologi telemedicine. Teknologi wireless mendorong telemedicine semakin besar karena cocok digunakan di Indonesia memiliki jarak yang berjauhan,” ucapnya.
Peran data dalam telemedicine ini menjembatani antara ekspektasi dengan informasi dari berbagai sumber. Apapun aktivitasnya, baik secara teknologi maupun medis, semua yang diharapkan yaitu kepuasan pasien. Pada prinsipnya kita akan menuju satu era di mana layanan secara digital dapat melayani semua masyarakat.

Kemudian dr. Dyah Mustikanin Pitha Prawesti, SpOG, MHSM, MRCOG selaku Chelsea & Westminster Hospital London UK memaparkan pendapatnya mengenai perspektif sebagai seorang klinisi. Layanan kesehatan National Health Services yang diterapkan di London sudah digratiskan melalui pendanaan dari pajak.
“Memang tidak dapat dipungkiri bahwa praktisi kesehatan terutama para klinisi tidak sedikit yang resisten terhadap perubahan, termasuk didalamnya mengadopsi teknologi informasi dan digitalisasi dalam praktek kesehariannya. Telemedicine perlu menjadi perhatian bagi para pembuat kebijakan untuk digunakan di Indonesia.”

Kemudian Rizal Maidin dari Admedika-Telkom Group juga menjelaskan apa saja yang sudah berjalan di Telkom Group terkait Telemedicine. Ada beberapa sektor kesehatan yang sudah disiapkan oleh Admedika untuk kedepannya.
“Digital Health ini sudah ada dari tahun 2018, jadi sampai saat ini kami masih menerapkannya. Sejak adanya wabah covid ini, aplikasi telemedicine meningkat tajam, termasuk di Indonesia,” ucapnya.

Alasan menggunakan telemedicine salah satunya karena kini rumah sakit yang ada lebih fokus pada menanganan pandemi daripada pasien yang sudah ada sebelumnya. Masyarakat kini menjadi lebih khawatir untuk datang ke rumah sakit, sehingga telemedicine dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat.
Halik Sidik dari Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia/ADINKES yang merupakan Alumni Telkom University selaku moderator berharap kedepannya dapat dibangun kolaborasi antara mahasiswa Telkom University, khususnya dengan angkatan yang melakukan Praktik Kerja Lapangan dengan Dinas Kesehatan, Puskesmas maupun Rumah Sakit di daerah untuk pengembangan Telemedicine, integerasi data termasuk bridging berbagai aplikasi yang ada di Fasyankes saat ini, khususnya Puskesmas.

“Perlu lebih banyak role model Fasyankes yang optimal memanfaatkan telemedicine seperti good practices dari RSUD dr. Iskak Tulungagung. Semoga seminar online ini bermanfaat bagi seluruh peserta,” ucapnya. (rls/tel-u)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.