Home » Headline » Kenali “Happy Hypoxia” Gejala Baru Covid-19 yang Sebabkan Kematian Mendadak

Kenali “Happy Hypoxia” Gejala Baru Covid-19 yang Sebabkan Kematian Mendadak

MAKIN kesini makin banyak fakta terbaru mengenai perkembangan covid 19 yang terungkap. Salah satu yang paling baru adalah soal happy hypoxia sebagai salah satu gejala baru dari infeksi ini.

Happy hypoxia adalah kondisi yang muncul ketika kadar oksigen di tubuh menurun drastis. Biasanya, orang yang mengalami hipoksia akan merasa sesak napas, batuk-batuk, detak jantung cepat, serta napas yang berbunyi. Namun pada orang-orang yang mengalami happy hypoxia, gejala-gejala tersebut tidaklah muncul. Sebaliknya, mereka tetap bisa berkegiatan seperti biasa, padahal organ-organ vital di tubuhnya sudah kekurangan oksigen.

Pakar kesehatan, dr. Reni Utari menjelaskan, hipoksia adalah kondisi yang sangat berbahaya karena bisa mengganggu kerja organ-organ vital di tubuh mulai dari paru-paru, hati, hingga otak. Pada kondisi yang parah, hipoksia bisa menyebabkan kematian akibat gagal organ. Oksigen adalah komponen yang sangat penting untuk tubuh. Tanpanya, sel-sel tidak bisa bekerja. Jika sel tidak bisa bekerja, maka organ pun tidak mampu berfungsi.

“Kondisi ini dapat berujung pada gagal organ. Kegagalan organ seperti otak, hati, atau paru-paru menandakan matinya jaringan di organ tersebut. Sehingga, organ tersebut sudah tidak lagi bisa berfungsi. Pada kondisi hipoksia yang bukan disebabkan oleh Covid-19, orang yang mengalaminya akan menjukkan gejala yang jelas seperti sesak napas, keringat dingin, dan jantung berdebar sangat cepat atau justru sangat lambat. Dengan gejala yang jelas, hipoksia bisa ditangani dengan tepat sebelum kadar oksigen makin menurun, sehingga kerusakan jaringan organ bisa dihindari atau dicegah,” ujarnya.

Sementara itu, pada orang yang positif Covid-19, hipoksia yang dialami bisa tanpa gejala. Maka dari itu muncul istilah happy hypoxia. Meski gejala tidak muncul, tapi kadar oksigen di tubuh para pengidap happy hypoxia bisa sudah sangat rendah dan organ-organ vitalnya terlanjur mengalami kerusakan parah.

“Tidak jarang, hal ini lah yang membuat pasien meninggal dunia, padahal sebelumnya terlihat sehat-sehat saja. Kadar oksigen di tubuh normalnya adalah 95-100 persen. Kadar oksigen yang kurang dari 90 persen, sudah dianggap rendah dan gejala hipoksia pun biasanya akan terlihat. Sementara itu pada para pengidap Covid-19 yang terkena happy hypoxia, kadar oksigen bisa turun hingga tinggal 50 persen dan mereka belum merasakan gejala yang berarti. Beberapa pasien bahkan masih bisa menggunakan telepon genggam dan berkegiatan seperti biasa sebelum harus menerima pemasangan ventilator atau alat bantu napas,” papar Reni.

Lebih lanjut Reni menjelaskan, sejauh ini, para ahli masih terus mempelajari fenomena terjadinya happy hypoxia. Penelitian tersebut dilakukan pada 16 orang pasien Covid-19 dengan kadar oksigen sangat rendah yang tidak memiliki gejala hipoksia. Hasilnya, ada beberapa hal yang bisa ditarik sebagai kemungkinan penyebab happy hypoxia, yaitu rendahnya kadar karbondioksida di tubuh pasien Covid-19, virus corona merusak bagian otak yang seharusnya merespons hipoksia.

“Kemungkinan lain penyebab happy hypoxia adalah virus corona yang masuk ke tubuh, telah merusak kemampuan tubuh dalam mendeteksi penurunan oksigen. Sehingga, otak baru merespons ketika kadar oksigen sudah terlalu rendah dan barulah menunjukkan gejala, seperti sesak napas. Happy hypoxia harus sangat diwaspadai selama masa pandemi, karena kondisi ini sudah menyumbang cukup banyak angka kematian akibat Covid-19,” tegasnya.

Pada infeksi virus terbaru ini, tidak munculnya gejala bukan berarti masalah selesai. Orang yang tidak bergejala apapun, bisa saja positif dan menularkan virusnya ke banyak orang. Bahkan tanpa gejala, seseorang juga bisa mengalami happy hypoxia, yang membuat tubuh terasa sehat-sehat saja, padahal organ penting di dalamnya sudah rusak. (dbs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.