Home » Cirebon » Mengulik Filosofi ‘Cimplo’, Kudapan Khas Rebo Wekasan di Kota Wali

Mengulik Filosofi ‘Cimplo’, Kudapan Khas Rebo Wekasan di Kota Wali

SERING kita mendengar istilah Rebo Wekasan. Masyarakat meyakini bahwa pada hari itu diturunkan berbagai musibah dan bala’ (marabahaya). Ada riwayat ulama yang mengatakan juga bahwa setiap tahun Allah SWT menurunkan 320 ribu macam musibah yang bermacam jenisnya dan itu diturunkan pada hari Rabu terakhir atau masyarakat sering menyebutnya sebagai Rebo Wekasan. 

Tokoh ulama nusantara (alm.) KH Maimun Zubair, pengasuh ponpes Al Anwar – Sarang pernah berkata bahwa dalam kitab Tarikh Muhammadur Rasulullah dijelaskan bahwasanya Rasulullah SAW ketika awal sakit beliau adalah di hari rabu terakhir di bulan Shafar, yang disebut juga Arba’ Mustamir (Rebo Wekasan- red). Selama 12 hari berturut-turut Rasulullah SAW sakit, kemudian beliau wafat pada tanggal 12 Rabiul awal. Pada awal sakitnya, yaitu hari Rabu terakhir bulan Shafar beliau pernah berpesan kepada sayidina Abu Bakar :

“Bersegeralah bersedekah, karena bala’ dan musibah tidak bisa mendahului amal sedekah. Terutama sedekah kepada anak yatim dan dhuafa.”

Pada umumnya di wilayah Nusantara peringatan Rebo Wekasan hanya ada di Jawa, Sunda, dan Madura. Tatacara tradisinya pun berbeda-beda, ada yang melaksanakan sholat sunah berjama’ah untuk menolak bala, mengundang warga berdoa bersama, selametan sedekah bumi, sawer atau membagikan uang.

Di masyarakat Cirebon sendiri, tradisi Rebo Wekasan sudah ada sejak jaman para wali. Masyarakat di Kota Wali ini biasa bersedekah dengan membagikan Cimplo/apem kinca kepada tetangga dan kerabat. Cimplo/apem kinca sendiri adalah kudapan khas Cirebon yang terbuat dari tepung beras dibentuk apem berwarna putih, lalu disajikan dengan gula merah cair yang dibubuhi parutan kelapa. Konon, Cimplo yang berwarna putih yang dipadu gula merah adalah simbol perlambangan jasad dan darah, jiwa dan raga, Sebagai dua hal penting dari kehidupan dalam diri manusia.  Ada juga yang mengatakan Cimplo ini adalah cikal bakal terbentuknya ide warna bendera Indonesia, merah putih.

Cimplo alias apem kinca ini marak dibuat ketika Rebo Wekasan tiba. Tradisi itu sudah dilakukan turun temurun dari jaman dulu oleh masyarakat Cirebon pada khususnya sebagai perwujudan sedekah untuk memohon keselamatan dari berbagai musibah dan marabahaya.

Sepertinya tradisi ini masih cukup relevan di masa sekarang, seiring masa pandemi yang tak kunjung pasti kapan berakhirnya. Selain tetap menjaga nilai luhur tradisi bangsa ini, tentunya ini jadi momentum yang tepat untuk saling berbagi dan menjalin silaturahmi di masa resesi ekonomi. Wallahu a’lam bi shawab. (*)

Penulis: Rif Bontar, Seniman Asal Desa Gembongan

(Diolah dari berbagai sumber)

Baca berita sebelumnya: Memahami Rebo Wekasan Ditengah Pandemi Covid-19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.